Tentang Hidup di Bulan Januari hingga Juli 2011

Hai Januari, Februari, Maret, hingga Juli,

Entah mengapa tahun 2011 terasa begitu cepat. Apa karena saya tertidur cukup lama? Atau mungkin tidak benar-benar hidup di enam bulan pertama di tahun ini? Atau justru terlalu banyak bermain hingga lupa waktu? Entahlah, apapun itu, saya hanya bisa tersenyum. Ada gejolak dalam diri yang cukup menyadarkan saya bahwa waktu tidak bisa menunggu. Waktu tidak memberikan kesempatan pada saya untuk berhenti sejenak lalu minum teh hangat dan berbincang dengannya. Ia tak kenal kompromi. Namun, itu semua yang membuat saya harus berterimakasih. Kalau ia berhenti, mungkin saja semua berkah juga ikut berhenti. Mengapa saya membuat judulnya seperti di atas untuk tulisan ini? Karena saya sadar kalau hidup saya di bulan Agustus dan seterusnya nanti akan lebih serius. Jadi saya putuskan untuk membuat catatan tentang taman bermain saya di bulan Januari hingga Juli tahun ini. Ayo buat punyamu juga! 😉

JANUARI semakin mendekatkan saya kepada teman-teman yang punya satu passion dalam hidup, sebut saja namanya jalan-jalan,  berpetualang, sekedar mampir, atau apapunlah itu. Mereka begitu luar biasa, saya menjadi semakin hidup di tengah-tengah mereka. Di bulan ini juga, niat saya semakin besar untuk menabung demi si hobi yang cukup menguras tabungan. Iya, menyelam. Mulailah saya dan beberapa teman dari ACI mencoba latihan diving di kolam renang. Di sisi lain, sebagai pekerja yang tak terikat di sebuah institusi dan mendapat kepastian gaji bulanan, saya sangat bersyukur karena sejak akhir tahun 2010, rejeki tak berhenti mengalir. Doa ibu menang sungguh luar biasa. Akhirnya di awal bulan ini pun saya bisa merencanakan mau kemana saja sampai pertengahan bulan. Bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi juga belajar dari alam. 🙂 Alhasil, Pulau Gusung Pandan dan Pulau Semak Daun di Kepulauan Seribu serta Desa Sawarna di Banten pun menjadi pilihan area bermain saya bersama teman-teman lama dan baru di pembuka tahun ini.

Untuk sebuah bulan yang hanya mempunyai 28 hari, FEBRUARI terasa sungguh amat sangat padat  bagi seorang pekerja tak tentu jadwal seperti saya. Bulan ini benar-benar tak ada pekerjaan yang menghasilkan uang. Tetapi justru saya malah senang. Rasanya menyenangkan ketika kau bangun pagi dan yang kau temukan bukanlah deadline melainkan setumpuk hal-hal yang kau sukai menunggu untuk diajak bermain. Saya sama sekali tak punya rencana apa-apa di bulan ini. But sometimes low expectations lead you to something good. Di bulan ini saya semakin didekatkan dengan si hobi, sekarang sudah mulai bisa rutin berenang lagi di kolam renang Senayan. Saya pun mengucap syukur tiada henti, selain bisa mengunjungi Teluk Kiluan di Lampung dan bisa kembali lagi ke Mentawai untuk melihat perkembangan para pengungsi di sana. Deg-degan banget, ini perjalanan pertama saya sendiri dengan pesawat ke Padang, lalu dilanjutkan dengan kapal besar ke Mentawai (12-14jam perjalanan dari pelabuhan Bungus). Terimakasih teman-teman Air Putih yang telah mengirim saya ke sana. Oiya, tepat di hari Valentine-nya juga saya girang sekali, salah 1 penyanyi favorit bertandang ke Indonesia. Om Duncan Sheik nyanyi bareng tante Rachel Yamagata! Ahh.. What a lovely & super busy Feb! Haha..

Bulan MARET selalu mencuri perhatian saya karena Java Jazz-nya. Though i’m not that into jazz, selalu ada penyanyi favorit yang membuat saya ingin melihat kepiawannya dalam bernyanyi/bermain musik. Tahun ini saya ingin melihat Corrine Bailey Rae, Santana, Sondre Lerche, & Fourplay. Sayang, saya baru saja pulang dari Mentawai dan cukup lelah untuk bisa melihat mereka. Tapi Tuhan baik dan punya rencana lain! Saya bersama tim dikirim ke Ende, Nusa Tenggara Timur oleh Green Music Foundation untuk peresmian Rumah Baca di Desa Waekokak dan untuk riset perkembangan di sana. Cerita tentang ini panjang, nanti akan saya ceritakan sendiri di tulisan terpisah ya. Karena di bulan ini saya masih malas (dan trauma) untuk mencari pekerjaan kantoran, saya pun menghabiskan weekend dengan mengunjungi Ujung Genteng bersama teman-teman dari forum National Geographic Indonesia dan ber-snorkeling ria bersama teman-teman dari Picnicholic di Pulau Bira, Kepulauan Seribu. Satu lagi, Maret termasuk bulan yang saya tunggu-tunggu sepanjang tahun karena Bulan Film Nasional-nya yang dirayakan dengan pemutaran-pemutaran film Indonesia dari jaman dulu sampai sekarang di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Ahh, what a Marvelous March, aight? 😉

APRIL is full of blessings for me. Diawali dengan Deep Indonesia, acara ini berhasil menguras tabungan saya dengan diskon-diskon peralatan selamnya, dijamin nggak nyesel belanja pas Deep Indonesia berlangsung karena harga peralatan selam jadi lebih bersahabat. Lalu menjadi bagian dalam Pameran foto & Malam Amal “Save Mentawai: Neglected Faces”. Senang rasanya ketika melihat banyak orang Jakarta yang mau menyempatkan hadir malam itu untuk ikut membantu teman-teman di Mentawai. Heiho! Di bulan April ini juga umur saya bertambah satu dan saya senang sekali karena bisa merayakannya bersama pacar. Haha nggak usah dibahas ya. Oiya, saya juga sudah disibukkan dengan pekerjaan. Tadinya di bulan ini saya berencana melamar pekerjaan ke salah satu majalah/website traveling karena sudah nggak punya duit, eh tapi ternyata ada yang harus dikerjakan. Selama seminggu dari tanggal 18 – 24 April saya dan teman-teman mengerjakan “Festival Film Asia Afrika”. memang belum terdengar namanya karena masih tahun ke-2. Sepertinya ini tahun terakhir saya mengerjakan proyek di bidang film karena ingin fokus di bidang traveling saja. Hmm..entahlah, kita lihat saja nanti. Berkah bulan April belum selesai sampai di sini lho, meskipun akhirnya saya putus sama si pacar (halahh katanya nggak mau dibahas!), saya mendapatkan tawaran pekerjaan freelance lagi dari klien lama. Batal lagi deh ngelamar kerja kantoran. God knows what best for me! 😀

Saya menikmati angin pantai sambil menanam mangrove dan terumbu karang di awal bulan MEI ini. Bersama teman-teman dari Picnicholic, saya merayakan trip dalam rangka Hari Bumi (22 April) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Lucu deh, si terumbu karangnya bisa dikasih nama sesuai yang kita mau. Di pertengahan Mei ini saya juga senang karena bisa satu trip lagi dengan Nikka dan kawan-kawan ke Pulau Biawak, Indramayu. Mereka adalah geng trip Pancoran yang selalu membuat saya gila dan lupa waktu kalau lagi kumpul sama mereka! Ah, punya teman-teman yang hobi traveling itu membuat saya semakin kaya, pengalaman-pengalaman mereka membuat saya semakin ingin mengelilingi Indonesia dan dunia suatu hari. Di bulan ini pekerjaan sudah semakin banyak, saya sudah harus mulai membagi waktu dan pikiran. Tapi semua itu tidak menyurutkan saya untuk akhirnya mengambil kelas latihan diving. Hore, jalan untuk mendapatkan diving license semakin dekat. 😀 Di akhir bulan Mei juga banyak acara menarik. Ada Gebyar Wisata Nusantara tanggal 28 di JCC dan Paruka (Pancasila Rumah Kita) di Graha Bakti budaya, Taman Ismail Marzuki. Bulan Mei terasa sangat ramai seperti pasar, what a life!

Salah satu mimpi saya selama ini akhirnya terwujud di bulan JUNI. Gerbang utama untuk bisa menyelami keindahan laut Indonesia sudah di tangan, saya dan enam teman lainnya lulus ujian diving! Di bulan Juni juga, website LSM yang membawa saya ke Mentawai sudah launching. Senangnya karena website tersebut menambah portofolio saya juga, hihi.. Di bulan Juni ini saya juga sedang puas-puasnya traveling sebelum bulan Ramadhan. Alhasil, Green Kanyon, Batu Karas, dan Pulau Perak (Kepulauan Seribu) menjadi destinasi di bulan keenam tahun ini. Saya rasa, sudah saatnya saya (agak) serius dengan pekerjaan. Lho memangnya selama ini nggak serius? Haha ya bukan begitu sih. Sebenernya saya juga dalam masa menabung untuk renovasi rumah. Kalau uangnya dipakai untuk jalan-jalan terus, rumahnya nggak selesai-selesai, kasian si Emak Bapak nggak bisa tinggal di rumah dengan tenang karena rumahnya acak kadut. Di bulan Juni ini saya mulai mengerjakan festival lagi, ahhh sebel deh karena mulai nggak fokus lagi. Tapi karena si empunya project ini adalah teman saya dan project-nya benar-benar luar biasa, saya pun akhirnya membantu mengerjakan IDEAFEST 2011. Hei, i know what’s in your mind. But believe it or not, it’s pro bono project lho!

“Gilaaa, udah JULI aja! Perasaan kemarin baru tahun baru deh.” Itulah yang terlintas di benak saya ketika memasuki hari pertama di bulan Juli. Ada banyak komitmen yang saya buat di bulan ini untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Duh, berat amat sih kedengerannya. Tapi memang benar begitu adanya, saya memegang cukup banyak proyek karena niat saya merenovasi rumah harus tercapai dan selesai di akhir tahun ini. Tapi emang dasar nggak bisa melewatkan kesempatan, saya tetep aja lho jalan-jalan ke Dieng karena sedang ada festival tahunan di sana. Saya pun tak mengelak waktu ada email tawaran jalan-jalan bareng geng Pancoran kembali datang. Alhasil, saya pun berjalan-jalan ke Semarang dan Karimun Jawa di pertengahan bulan ini. Setelah itu, sisa bulan Juli benar-benar saya dedikasikan untuk IDEAFEST 2011 yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Semuanya nggak sia-sia, acaranya sangat ramai dan sukses, saya juga berkenalan dengan banyak orang kreatif. Oiya, di akhir bulan Juli saya sempat mengikuti tes untuk kuliah meneruskan S1 (saya lulusan D3 Broadcast UI), doakan semoga lulus dan masih ada niat untuk melanjutkan kuliah terus ya! Btw, sebelum paginya tes untuk kuliah lagi, saya dan teman-teman sempet dateng ke konser “Blues for Freedom” di TIM. Jangan ditanya mau ketemu siapa, tak ada alasan bagi saya untuk tidak menonton aksi panggung Efek Rumah Kaca. Di panggung malam itu juga saya penasaran dengan Harry Pochang Blues libre, akhirnya bisa nonton juga! Selain gembira karena acaranya, ada semacam percikan bahagia karena malam itu saya bertemu dengan teman-teman baru dari Akademi Berbagi. Ihhh seneng deh bulan Mei ini banyak kenal orang-orang dan dapet pencerahan luar biasa! Iya, ada beberapa hal yang belum bisa saya tuliskan di sini karena masih dalam proses penggodokan ide, intinya saya semakin dekat dengan passion traveling saya. Saya ingin fokus dan sepertinya sudah semakin didekatkan jalannya. 🙂

Ah, ternyata saya tidak tertidur lelap selama tujuh bulan di tahun ini. Kalau hidup ini palet warna, palet saya berwarna-warni sekali, lukisan saya pun macam-macam. Kalau biasanya orang punya resolusi di awal tahun, saya biasanya membuat resolusi kapanpun saya mau. Nah, resolusi saya di bulan Agustus adalah menabung untuk rumah, menabung untuk keliling Indonesia, mengerjakan proyek pro-bono yang berhubungan dengan anak-anak, dan fokus dengan dunia traveling. Yang terakhir agak susah nih, saya masih candu untuk mengerjakan proyek-proyek di bidang film dan di bidang kreatif. Ahhh..what more can i say? Life’s been so great to me! *tentunya butuh perjuangan di tahun-tahun sebelumnya sampai saya bisa ada di tahap ini sekarang.

“Life is short. Break the rules. Laugh uncontrollably. Forgive quickly. Kiss slowly & never regret anything that once made you smile!” Cheers! 😉

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Hidup di Bulan Januari hingga Juli 2011

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s