Kelakuan Para Wakil Rakyat

Baca koran tempo pagi ini sambil menunggu keretaku datang, eh headline-nya bikin gue geleng-geleng kepala lagi sambil tersenyum dan memicikkan alis..

“Dana BI RP 68,5 Miliar Mengalir ke Jaksa”

Duh.. kayanya duit segitu dikitt banget. Kemarin kasus Al Amin Nasution, kasus Miranda Gultom, eh sekarang kasus mantan Gubernur dan Direktur Bank Indonesia.

Hmm..kayanya trend kasus suap ga akan pernah mati deh. Satu suap semua suap. Siapa bilang yang bisa latah cuma orang-orang biasa seperti kita dengan trend mode dan fashion? Para pejabat dan wakil rakyat ngak mau kalah dong 😉

Coba deh liat data yang gue copy paste dr Tempo, edisi 6 Oktober 2008

KE MANA DUIT BI?

Uang keluar Rp 127,75 miliar
Diduga ke DPR Rp 31,5 miliar
Diduga ke kejaksaan Rp 68,5 miliar
Uang jasa pengacara Rp 16,81 miliar
Jumlah Rp 116,81 miliar
Dana yang belum ketahuan Rp 10,94 miliar

Menakjubkan bukan?
Di kala krisis ekonomi Amerika yang pastinya menyebabkan efek domino dan mengenai Indonesia juga, para wakil rakyat justru bermain dengan lembaran uang milyaran rupiah. Yah, katanya sih buat ongkos supaya gak ditangkep.

“Kan malu, masa pejabat Bank Indonesia ditangkep”

Itu sih belum seberapa, coba kalau dibandingkan dengan kondisi orang-orang yang masih tidur beralaskan kolong langit, rumah-rumah pinggiran yang digusur, banyaknya anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan mencicipi bangku pendidikan. Kelakuan para wakil rakyat ini jadi suka bikin gue nelen ludah.

Kenapa sih udah tau salah justru malah dilindungi dengan alasan “masa wakil rakyat ditangkep”Wong maling ayam aja ditangkep, masa orang yang ngambil duit rakyat justru malah ditolongin..

Susah memang membenahi masalah korupsi, apalagi menangani kelakuan para wakil rakyat.
Kalau sudah begini, dimana letak hati nurani? *Emangnya masih punya?
Apa perihal benar dan salah masih ada bedanya?
Apakah penjara dan hukuman bertahun-tahun hanya berlaku untuk masyarakat awam yang tak punya banyak uang untuk menyuap?

Ya..ya..ya.. sekali lagi kita hanya bisa berdemo atau hanya sekedar geleng-geleng kepala menonton atraksi mereka lewat layar televisi dan membacanya dalam lembaran halaman surat kabar setiap pagi.

Advertisements

7 thoughts on “Kelakuan Para Wakil Rakyat

  1. seni

    Bo…!!!
    kalo dibeliin nasi kucing berapa banyak tuh?
    hehehe…

    Kadang kita tak pernah mengerti pa yang mereka fikirkan. katanya kasihan ma anak mreka yang masih kecil, tapi koq ngebesarinnya pake uang korupsi? apa ga kasian kalo bapaknya ketahuan trus di penjara?

    hahaha…turut berduka cita deh ma bangsa indonesia

    btw, masukin blog gua dunk.
    seniatussaadah.wordpress.com

    Miss U…

    Reply
  2. bram

    hoalah,,ngapain pikirin wakil rakyat sih????
    masa kita mau ikut berebut bangkai??
    mereka kan gak jauh beda kaya binatang..beringas..hihihihi!!

    Reply
  3. lucianancy Post author

    hahaha.. nggak mikirin merekanya..
    gue cuma kepikiran aja nasib orang2 yg seharusnya berhak atas uang itu 😦
    kasian ya..

    mereka tuh maunya apa sih? di akhirat kan ga perlu duit!

    Reply
  4. indiraputeri

    kadang kita, manusia, sering lupa akhirat kayaknya 🙂

    ingetnya sama duit mulu tuh! dan budaya dunia ato mungkin indonesia kali ya yg masih men’dewa’kan uang sebagai simbol kuasa, kehebatan, keberhasilan, dan segudang nilai positif lain.

    kayaknya duit udah terlanjur dijadikan final destination kita ato mungkin mereka, bukan dijadikan sebagai ‘hadiah’ atas kerja keras dan usaha halal.

    cara mendapatkannya udah gak penting lagi, yg penting ‘saya butuh duit untuk makan, belanja, beli rumah, pamer perhiasan, melancong ke luar negeri dan segudang keinginan lainnya’.

    Rumit juga, tapi masih ada harapan kalo mungkin generasi kita tidak lagi bermental ‘duit’ seperti mereka2 itu. Amin!!!

    Nice blog! makasih sdh mampir d blog saya 🙂 sudah saya link nih…

    Reply
  5. sandi

    malu-maluin banget sih orang BI, seleksi jadi karyawan disitu sangat super susah. tapi hasilnya, benar pintar tapi banyak yang gak bermoral. hmm.. memang susah kerja di tempat ‘basah’ ya

    Reply
  6. beny

    salam kenal…………
    AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI

    http://www.duniasastra.com

    Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.

    Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.

    Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : ” Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan”. Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : ” Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?”…”Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!…Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !”

    Memang aku telah mendaki “puncak-puncak perbukitan” dan sering pula aku mengembara dalam “kesunyian ” hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu “turun” dari puncak pegunungan.

    Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.

    Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju “lorong penderitaan” sekaligus teman keagungan spiritual…..

    Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.

    Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .

    Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.

    Jangan pernah menyesal karena kalian ‘buta’ dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian ‘tuli’, sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.

    Dan segala yang “tak berbentuk” selalu berusaha mencari “bentuknya”, seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari…

    Dan kulihat…….Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.

    Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.

    Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !

    Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

    Reply

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s