Terios 7 Wonders: Ranupani, Kehangatan di Kaki Gunung Semeru

Hari ke-4 & 5 (4-5 Oktober 2013): Yogyakarta – Malang – Desa Ranupani.

“GILAAAA BAGUS BANGETTTT, BAGUSSS BANGETTT!” Meskipun sudah pernah mengunjungi desa yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, saya masih saja teriak-teriak kegirangan seperti anak kecil sepanjang perjalanan dari Malang menuju tempat syuting film 5cm itu. Begini nih noraknya kalau anak kota pergi ke desa! 😀

Semeru from a distance.

Semeru from a distance.

terios 7 wonders - tengger 3

Muter lewat Lumajang karena jalur Tumpang sedang ada perbaikan.

Jalan aspal berliku di daerah Lumajang.

Jalan aspal berliku di daerah Lumajang.

Beautiful sunset, somewhere in Lumajang.

Beautiful sunset, somewhere in Lumajang.

Perjalanan menuju kediaman Suku Tengger membuat bulu kuduk saya merinding. Selain karena suhu udara yang sudah mulai menurun, langit sudah gelap ketika kami melewati Lumajang. Seharusnya, jalan menuju Desa Ranupani bisa ditempuh lebih singkat jika lewat Tumpang, namun sayang saat itu jalan sedang diperbaiki dan kami harus memutar dan menambah dua jam lagi lewat Lumajang. Saya yang biasanya cerewet di mobil mendadak diam ketika memasuki gerbang “Selamat Datang di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Apalagi waktu tim kami memutuskan untuk turun dan foto-foto sebentar. Suasana makin senyap, mobil lain pun sudah jauh menghilang di depan.

“Tadi lo denger suara dari belakang mobil nggak?” Rizky, jurnalis Metro TV sekaligus pengemudi mobil kami akhirnya memecah kesunyian di dalam mobil ketika berusaha mengejar keenam mobil lainnya.

“Gue denger, suara batu ya Ky dari bawah mobil?” Mumun dan Bambang mempunyai pemikiran yang sama saat itu.

“Bukan, kalo suara batu kerikil dari bawah mah suaranya kecil, tadi kaya suara pintu belakang digedor-gedor. Lo denger Cy?” Sambil bertanya kepada saya, Rizky sengaja melewati jalan yang penuh batu kerikil supaya kita tau beda bunyi kerikil dan bunyi yang ia maksud.

Saya diam seribu bahasa. Dari kursi navigator, saya hanya menatap lurus ke depan. Sesekali memperhatikan Rizky membunyikan klakson setiap kami melewati pohon besar. Saya pikir tadinya karena hari sudah gelap dan tidak ada penerangan appaun kecuali dari lampu mobil, makanya ia membunyikan klakson untuk berjaga-jaga kalau ada mobil datang dari arah lain. Ternyata bukan itu. I found later that he can “see”. Suara gedoran pintu belakang adalah suara teguran karena kami menyalakan musik terlalu kencang. Klakson yang ia selalu bunyikan adalah sebagai bentuk tanda permisi. Malam itu kami ditegur. Sebagai pendatang, kami ditegur untuk tidak boleh sembarangan.

*nggak jadi posting foto gerbangnya karena semua fotonya blur 😦

***

“AKHIRNYAAAA..” Saya menjerit dalam hati ketika mobil kami berhasil menyusul enam mobil lainnya dan akhirnya sampai ke Desa Ranupani. Akhirnya saya bisa cerewet seperti biasa lagi. :’)

Sedikit cerita, Desa Ranupani adalah desa yang berada di kaki Gunung Semeru, letaknya di ketinggian 2200 meter di atas permukaan laut. Suhu udaranya normal pada siang hari namun sangat menusuk jika sudah malam hari. Desa ini biasanya dijadikan tempat menginap para pendaki Semeru sebelum paginya jalan menuju puncak. Desa ini juga satu-satunya area yang masih bisa dilewati mobil. Setelah itu, kamu harus jalan nanjak.

Di malam kelima perjalanan Terios 7 Wonders, kami disambut di salah satu rumah warga yang cukup besar oleh penduduk Suku Tengger. Balutan sarung di badan, topi kupluk, dan senyum hangat menjadi ciri khas mereka yang selalu membuat saya ingin kembali ke tempat ini.

“Selamat datang semuanya, silahkan duduk.” Mas Lutfi yang merupakan seorang teman dari salah satu anggota tim menjadi penyambung kami dengan penduduk setempat.

Ia menjelaskan sedikit tentang filosofi rumah masyarakat Suku Tengger. Seperti yang bisa kamu lihat di gambar, dapur (lebih dikenal dengan sebutan pawon) dan ruang tamu sengaja disatukan untuk mengakrabkan para tamu. Menurut Mas Lutfi yang mendalami Arkeologi ketika masa kuliah S2-nya, tungku api juga diletakkan dekat dengan tempat para tamu duduk agar bisa memberikan kehangatan dan menciptakan keakraban di antara siapapun yang masuk ke dalam rumah.

“Pawon ini gunanya banyak. Biasanya jadi tempat kumpul, makan bareng, musyawarah, atau nyambut tamu yang datang dari jauh.” kata-kata Mas Lutfi membawa ingatan saya ke beberapa bulan lalu ketika saya pergi ke Ranu Kumbolo. Saya dan teman-teman menitip motor sebelum naik. Pagi harinya ketika turun, kami juga disambut dengan teh hangat dan kue pasar di depan tungku perapian. Rumah yang digunakan untuk menyambut kami tergolong sangat besar. Di rumah warga yang sempat saya singgahi, pawon hanya mampu menampung sekitar tujuh sampai sepuluh orang. Di pawon ini, 24 orang bisa masuk walau agak sedikit desak-desakan. Ah, tapi kami malah bersyukur, makin berdesak-desakan, makin hangat malam itu.

Mas Lutfi sedang menjelaskan tentang kegunaan pawon di rumah masyarakat Suku Tengger.

Mas Lutfi sedang menjelaskan tentang kegunaan pawon di rumah masyarakat Suku Tengger.

Setelah mendengar sambutan dari Mas Lutfi, kami melahap hidangan yang sudah disajikan. Ngomong-ngomong soal makanan, ada satu yang nggak bisa saya lupain dari Ranupani, lomboknya dahsyat! Sebagai orang yang nggak afdol kalo makan nggak pake sambel, malam itu saya merelakan makan tanpa si merah. Pedesnya sambel Semeru bikin rasa makanan lain jadi nggak kerasa, air hangat atau teh manis panas pun belum bisa berhasil menghilangkan api di lidah saya. Sambil makan, sesekali saya melirik ke Mas Puput, blogger yang terkenal dengan keantengan dan ketahanannya terhadap segala macam sambel yang kita temui di jalan ini pun ternyata mengakui kalau sambel Semeru adalah sambel terpedas yang pernah ia makan.

“Gileeee, pedesnya bisa bikin ane sampe afal Quran ini mah!” Iman, salah satu driver yang terkenal dengan logat Betawi kentalnya tiba-tiba nyeletuk dan berhasil membuat saya keselek dan tidak berhenti tertawa selama semenit.

Dare to try?

Sambel di kanan bawah adalah sambel yang wajib kamu coba kalau mengunjungi Desa Ranupani!

Sambel di kanan bawah adalah sambel yang wajib kamu coba kalau mengunjungi Desa Ranupani!

Malam sejuta bintang di Ranupani, Thanks Wira Nurmansyah buat settingan kameranya! Ternyata kamera bututku mampu menangkap keindahan malam. :')

Malam sejuta bintang di Ranupani, Thanks Wira Nurmansyah buat settingan kameranya! Ternyata kamera bututku mampu menangkap keindahan malam. :’)

***

“Kenapa dipilihnya Ranupani om? Aku pikir kita bakal ke Bromo.” tanya saya ke Om Toni, team leader perjalanan ini ketika kami sarapan pagi sebelum mengelilingi desa dengan si putih.

“Kalo ke Bromo udah biasa, semua orang tau Bromo. Kalo orang nggak naik Semeru, biasanya jarang ada yang emang sengaja ke Ranupani.” Jawaban Om Toni membuat saya tersenyum. Mendapat kesempatan bisa berkemah di bawah jutaan bintang di pinggir Danau Ranupani adalah salah satu pengalaman yang paling menyenangkan. Karena akan lebih banyak tinggal di hotel selama road trip, bisa tinggal dekat dan berinteraksi dengan warga lokal menjadi sebuah kemewahan dalam perjalanan ini. Thank you for choosing the right hidden paradise, Terios!

nb: sejak syuting film 5cm, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru jadi lebih punya banyak pengunjung. Tapi sampahnya juga makin tambah banyak. Kalau kamu berencana mendaki Semeru, siapin trash bag yang besar dan bawa sampahnya turun ya. Nature take care of us in so many ways, it’s time to us to give back, do a simplest thing that we can. 😉

Bangun jam 5 aja udah terang banget euy!

Bangun jam 5 aja udah terang banget euy!

Before sunrise, around 5 am.

Before sunrise, around 5 am.

Catching the golden moment.

Catching the golden moment.

Touring around the village.

Touring around the village.

Sejauh mata memandang.. sawah semua euy!

Sejauh mata memandang.. sawah semua euy!

My new family! Nggak nyangka, ternyata wartawan otomotif gila-gila semuaaaa. Aku senang!

My new family! Nggak nyangka, ternyata wartawan otomotif gila-gila semuaaaa. Aku senang!

Kembali menuju destinasi selanjutnya: Baluran!

Kembali menuju destinasi selanjutnya: Baluran!

Advertisements

25 thoughts on “Terios 7 Wonders: Ranupani, Kehangatan di Kaki Gunung Semeru

  1. puputaryanto

    Ci, ada salah ketik : blogger yang terkenal dengan ke(G)antengan dan ketahanannya .. dah gw benerin yaaa….

    Reply
  2. ranumesha

    Uciw. Gue orang Malang belum sempet nyapa Ranupani dkk. Mudiknya selalu bertepatan saat musim ujan atau si semeru lagi aktif (dan juga saat lebaran, waktu abis buat sowan-sowan). Baca postingan lo, kok bikin gue kayak ada di sana, ya? Perjalanan yang menyenangkan yes? Ga dapet jodoh suku Tengger, ciw? Anak lurahnya kek… :’)

    Anyway, thank you for sharing, avatar cebong~

    Reply
  3. Innes

    pengen kayak di film 5cm deeeh… naik gunung sama gebetan hahaha!! biar lengkap! pas liat bintang di lagit, eh nengok ke kanan bisa liat bintang di mata kamuuuu #eaaa jadi, goal tahun 2014 adalah ke Semeru sama gebetan (soon-to-be my husband) 😀

    Reply
  4. gleen fredly

    Heeeeee…………….
    Gw pikir cerita serem nya bakal berlanjut, taunya segitu doang.
    Tapi kalo boleh saran sih, “kalo emang naik gunung yah emang harus permisi permisi mba, krn memang aura gunung dan yang jaga gunung itu ngga mau keganggu dan ngga mau gunungnya terusik atau dirusak.
    Dan bukan cuma gunung aja sih sebenernya, dimanapun selalu ada yang jagain, ntar hitam maupun putih.
    Karena memang berdasarkan pengalaman gw aja sih.
    Bener bgt itu driver sering2 klakson, untuk permisi secara ngga langsung, ataupun baca2 dalam hati.
    Btw fotonya keren mba.
    Boleh ngga minta file high res nya buat nyetak di banner.

    Reply
    1. lucianancy.com Post author

      SETUJUUU harus permisi! Kemarin kita kekencengan muter musiknya, jadi ganggu euy.
      Ceritanya sebenernya mau dilanjutin mas, tapi takut sendiri nulisnya, merinding liat foto-foto di gerbang yang hasilnya burem semua. 😦

      Reply
  5. wismayanti

    mba uci kalo mau ke semeru ama mas wira & bambang aja, yg pernah muncak ke semeru….
    kan lumayan tuh ada jasa porter hihihi…. 😀

    Reply

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s