Anies Baswedan & Gerakan Indonesia Mengajar

“It’s not about me, it’s not about the program, it’s about the nation, it’s all about us.” Anies Baswedan-

Bertemu, mengobrol tatap muka dengan santai, dan berkonsultasi banyak hal dengan sang idola adalah hal yang sungguh menegangkan sekaligus menyenangkan. Tahun 2009 lalu, saya pernah mengundang beliau sebagai narasumber di stasiun TV swasta tempat saya bekerja, namun waktunya sangat singkat sekali. Makanya, waktu yang saya miliki ketika mendapat kesempatan untuk menghadiri Obsat & Open House Indonesia Mengajar tak saya sia-siakan begitu saja.

Anies Baswedan. Ia dikenal sebagai Rektor Universitas Paramadina dan sebagai Tokoh Intelektual. Lebih dari itu, jika kamu membaca Wikipedia dan mencari namanya di Google, pastilah deretan namanya muncul dengan segudang predikat yang mungkin membuatmu berdecak kagum. Menurut saya, dia pantas menjadi calon pemimpin negeri ini. šŸ˜€

Akhir Januari kemarin, Mas Anies berbagi tentang pengalaman hidupnya dan tentang Indonesia Mengajar. Banyak hal yang membuat para pengunjung terinspirasi, termasuk saya tentunya. Ia merupakan penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, sebuah gerakan yang mengirim putra putri terbaik Indonesia ke berbagai pelosok Indonesia untuk mengajar di sekolah-sekolah yang kekurangan guru.

Saat menjadi pembicara di Obrolan Langsat, Kamis, 20 Januari 2011.

“Saya yakin banyak sekali yang ingin menjadi guru tapi tidak untuk selamanya.” ujarnya ketika menjadi pembicara di Obsat, 20 Januari 2010 lalu.

Maka dari itu, gerakan yang digagas Mas Anies tidak memperbolehkan anak-anak bangsa yang menjadi guru itu lebih dari satu tahun.

“Mereka harus kembali setelah setahun, bebas mau ngapain setelah itu. Justru saya ingin mereka berkembang dan belajar lebih banyak lagi. Syukur-syukur bisa mengajar lagi di luar gerakan Indonesia Mengajar.” tambahnya.

Saya termasuk dalam kumpulan anak yang berniat ingin mendaftar dan menjadi bagian dari Indonesia Mengajar, tetapi saya juga termasuk ke dalam kumpulan anak yang merasa tidak masuk kualifikasi dalam kriteria ini. Saya pun mulai berpikir, mengapa harus kalah sebelum bertanding? Saya pun tak yakin seratus persen kalau kriteria ini mengikat calon-calon pesertanya. Ternyata benar! Ketika saya menanyakan apakah calon Pengajar Muda (sebutan untuk para guru di Indonesia Mengajar) harus benar-benar minimal lulusan S1, bagaimana dengan yang hanya lulusan D3?

“Jangan pernah takut untuk mendaftar. Kriteria itu kan hanya menjadi patokan kami untuk kemudahan penyeleksian. Karena tahun lalu banyak yang mendaftar dari lulusan D3, akhirnya di pendaftaran pun kami cantumkan pilihan lulusan D3. Kami juga tidak pernah membedakan background pendidikan para calon Pengajar Muda. Ada yang dari Geologi, Fisika, dll. Toh mereka nantinya akan hadir di pelosok Indonesia sebagai Guru SD.” penjelasan beliau sungguh sangat melegakan hati saya yang baru lulusan D3 ini.

Uniknya, meskipun background pendidikan para Pengajar Muda tidak diperhitungkan saat mendaftar, hal tersebut sangat berguna sekali saat mereka berada di lapangan, malahan ada yang mendadak jadi dokter di sana. Contohnya saja salah satu pengajar muda yang ditempatkan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, ia mendadak jadi dokter karena menjelaskan tentang obat-obatan dasar kepada masyarakat yang meminum amoxicillin untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. Lucunya lagi, ia dipanggil dukun! Waktu ada wabah anjing gila di sana pun, ia yang hanya mengobati dengan kotak P3K langsung menjadi rujukan satu desa. Pengalaman yang sungguh luar biasa. Hal tersebut juga sempat membuat Indonesia Mengajar berpikir untuk membekali sedikit ilmu kesehatan masyarakat kepada para calon Pengajar Muda mendatang.

Mendengar pengalaman-pengalaman para Pengajar Muda membuat saya semakin ingin bergabung secepatnya. Tahun 2010, Indonesia Mengajar mengirim 51 putra-putri terbaik Indonesia ke 5 kabupaten, Riau (Kab. Bengkalis), Lampung (Kab. Tulang Bawang Barat), Kal-Tim (Kab. Paser), Sulawesi Barat (Kab. Majene), dan Maluku Utara (Kab. Jalmahera Selatan). Tahun ini? Ada lebih banyak yang akan berangkat dan lebih banyak lagi daerah yang dijangkau Indonesia Mengajar.Ā 200 Calon Pengajar Muda akan mengajar di kabupaten-kabupaten yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 100 pengajar akan dikirim bulan Juni dan 100 lagi akan dikirim bulan November 2011.Ā What more can i say?

Foto-foto aktivitas anak-anak di berbagai pelosok daerah.

Tidak ada koneksi internet, listriknya hanya menyala saat malam, MCK pun hanya ada di beberapa daerah. Begitulah kondisi daerah yang akan ditempati calon pengajar muda. Selain menjalankan proses belajar mengajar sesuai kurikulum dari sejak perencanaan sampai evaluasi, mereka juga bertugas untuk menghidupkan kembali ekstra kulikuler yang mati, mingle & Ā belajar bersama masyarakat lokal, serta melakukan kegiatan jaringan dan advokasi pendidikan (menjadi pengumpul informasi). Jam kerjanya disesuaikan dengan jam mereka mengajar, sisa waktunya terserah mau mereka gunakan untuk apa. Boleh dipakai untuk me time atau apapun. Tetapi nyatanya waktu senggang digunakan para pengajar muda untuk bermain bersama anak-anak dan masyarakat sekitar. Ada yang memberikan les tambahan ke desa-desa tetangga, ada juga yangĀ menjadi Puskesmas Keliling. Seminggu atau dua minggu sekali mereka pergi ke kota untuk melakukan semua hal yang tidak bisa mereka lakukan di desa. Tak lupa, mereka juga membuat laporan 2 minggu sekali dan dikumpulkan setiap satu bulan sekali untuk mengabarkan perkembangan kondisi di tempat mereka mengajar.

Mas Anies pun dengan sangat rendah hati berpesan “Jangan terlalu banyak memikirkan tentang apa yang kita kerjakan, apakah nanti akan diapresiasi/tidak, that’s secondary. Yang harus kita pastikan adalah ketulusan dalam mengerjakan sesuatu itu harus selalu ada.”

Ia berharap kalau Gerakan Indonesia Mengajar tidak hanya bisa menyuplai guru saja, tetapi juga bisa menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa yang mempunyai world class leadershp competence tetapi grass root understanding-nya kuat.

Para Pengajar Muda Angkatan 1

MengenaiĀ sustainability Gerakan Indonesia MengajarĀ sendiri, Mas Anies menekankan pada masyarakat di sana untuk membangun kesadaran akan kepedulian aktivitas pendidikan menjadi kesadaran kolektif, bukan hanya pemerintah. Ia enggan berlama-lama dan terus menerus mengirim guru ke daerah. Menurutnya, kalau Indonesia Mengajar sudah tidak dibutuhkankan lagi, berarti Indonesia sudah cukup guru kan?

“Setiap anak punya kesempatan mengajar selama 1 tahun di salah satu desa dan programnya sendiri berjalan selama 5 tahun. Setelah 5 tahun, kita akan memilih daerah yang berbeda lagi. Saya berharap banyak yang melakukan kegiatan seperti ini karena kepedulian benar-benar harus dibangun.” jelasnya penuh semangat.

Begitu besar kesempatan yang diberikan, begitu banyak yang harus saya pelajari dan saya bagi. Sebagai orang awam dalam proses belajar mengajar, tentunya banyak ketakutan yang tidak penting. Namun, sekali lagi kata-kata Mas Anies meredam semuanya. Ia bilang, kita tak perlu takut nanti akan seperti apa dan bagaimana menjalankannya. “If you’re selected, you’ll be fine, anak-anak yang terpilih kemarin memang sudah terbukti siap. Seringkali banyak kekhawatiran yang kita bangun sendiri.”

Bersama Anies Baswedan kedua putra-putrinya.

Pendaftaran untuk menjadi Pengajar Muda tahap ke-2 tahun ini memang sudah ditutup akhir Januari kemarin. Saya pun melewatkannya. Tapi masih ada tahap ke-3 bulan April nanti lho. Kalau kamu merasa masih ada yang kosong ketika kamu melakukan pekerjaanmu sekarang dan ketika semua itu hanya bisa digantikan oleh senyum anak-anak saat kamu mengajar mereka, you definitely have to join in Gerakan Indonesia Mengajar!

“Don’t beĀ pessimisticĀ because optimism is very contagious.”


Advertisements

5 thoughts on “Anies Baswedan & Gerakan Indonesia Mengajar

  1. Fattia

    Kenapa yang keterima cuma dikit ya, ini kan program yang bagus, kayanya semakin banyak yang keterima semakin bagus bukan?Aku ikutan tapi g lulus, sedih

    Reply

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s