Rumah Panggung Belitung, Si Kokoh yang Kesepian

Selasa pagi tepat di tanggal 28 September 2010, saya dan rekan petualang memulai hari dengan berwisata kota. Tujuan pertama kami adalah Rumah Adat Panggong. Rumah ini sangat mudah ditemukan, letaknya persis di tengah kota Tanjungpandan, ibukota Belitung Barat.

This slideshow requires JavaScript.

Lagu-lagu daerah Belitung terdengar pelan ketika kami melangkahkan kaki masuk dari pintu samping. Di ruang tengah terdapat replika pelaminan, baju adat, serta segala perlengkapan yang diperlukan untuk pernikahan adat Belitung. Di ruang sebelahnya, anda bisa menemukan berbagai macam alat musik tradisional, alat-alat berladang, dan alat-alat yang digunakan untuk menangkap ikan.

Menurut Nuniek Febriyanti, petugas rumah adat yang bertugas, rumah adat Belitung dibangun dengan konsep rumah panggung agar posisinya jauh dari tanah. Hal ini dilakukan agar penghuninya terhindar dari ancaman hewan buas. Rumah Panggong dibedakan menjadi dua jenis sesuai dengan luas lahan milik penduduk: Rumah Panggong yang melebar ke samping atau yang memanjang ke belakang.

Sebenarnya rumah ini masih bisa ditemukan di daerah Sijuk atau Selat Nasik, namun jumlahnya sedikit sekali. Nuniek pun berpendapat kalau Rumah Panggong jauh lebih nyaman, sehat, dan mempunyai sirkulasi udara yang baik daripada rumah penduduk pada umumnya. Tapi langkanya kayu dan perawatan yang mahal membuat penduduk enggan membangun Rumah Panggong.

“Saat cuaca panas, kayu harus tetap dalam kondisi dingin, dalam cuaca dingin, kayu harus tetap dalam kondisi panas. Ini semua harus dijamin agar kayu tak mudah lapuk.” jelas Nuniek.

Kebijakan Dinas Pariwisata Belitung merupakan contoh yang bagus untuk diterapkan setiap daerah di Indonesia. Rumah Panggong sengaja dibangun tepat bersebelahan dengan Rumah Dinas Bupati Belitung. Tujuannya adalah agar masyarakat bisa tetap mengenal budaya asli mereka dan para wisatawan yang berkunjung bisa mengetahui adat istiadat asli Pulau Belitung.

Meskipun hanya satu di Tanjungpandan, rumah ini menjadi simbol kuat kebudayaan asli masyrakat Belitung. Semoga seiring perkembangan zaman, masih ada penduduk yang ingin membangun Rumah Panggong sebagai tempat tinggal atau sekedar tempat peristirahatan. (@lucianancy)

Advertisements

One thought on “Rumah Panggung Belitung, Si Kokoh yang Kesepian

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s